Minggu, 29 Agustus 2010

Ramadhan, Tradisi Ritual dan Humanisme

Sebagian orang gegap gempita dan suka cita menyambut bulan Ramadhan, sebagian lagi tetap menjalankan rutinitas kesehariannya tanpa ada pengaruh bahwa bulan ini setidaknya menjalankan puasa. Terlihat di pojok warung yang notabene buka 24 jam. Muslimkah? Wallahu a’lam bisshowab. Bagi yang merasakan bulan Ramadhan sulit menggambarkan begaimana perasaan haru dan gembira menjadi satu. Ini adalah kondisi abstrak. Harapan surga, pahala berlipat ganda, ampunan dosa, dan diselamatkan dari api neraka mengisi suasana batin.

Pada dasarnya, menghormati Ramadhan adalah penghargaan terhadap tradisi. Umat yang menghargai tradisinya adalah umat yang autentik. Mereka tidak tercabut dari akar dan memahami tradisi sebagai bagian dirinya karena tradisi merupakan ciptaannya sendiri, sehingga menolak tradisi adalah penolakan terhadap karya umat itu sendiri.

Akan tetapi, penghargaan secara berlebihan , karena disertai dengan sakralisasi, akan menjatuhkan umat pada tradisionalisme, pemberhalaan tradisi. Di sini harus dibedakan antara tradisi dan tradisionalisme. Puasa Ramadhan semestinya didialogkan dengan masalah kemanusiaan, tidak sebatas dijalankan lalu menanti limpahan pahala dan ampunan.

Secara potensial, manusia menyimpan seluruh sifat Tuhan. Apabila sifat itumenjelma menjadi sempurna, bisa disebut insan kamil. Sebuah konsep tentang kesempurnaan akhlak, di mana sifat maskulin dan feminine Tuhan menyatu utuh pada manusia. Jadi, tujuan puasa adalah hendak menjadi Tuhan, dalam pengertian sufistik, yang secra atraktif digambarkan secara takholli (pengosongan), tahalli (pengisian), dan tajalli (penjelmaan). Itulah makna puasa yang harus didialogkan dengan realitas. Lalu realitas yang seperti apa ?

Thomas Hobbes dalam filsafat politiknya mengatakan manusia adalah serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus). Bias benar, karena realitas yang ada adalah ketamakan yang berimplikasi pada pertikaian sesama. Itu manusia. Karl Max menyimpulkan, sejarah manusia didasari benturan dan gesekan kelas sosial. Tidak jauh beda dengan Hobbes. Realitas yang kita hadapi alih-alih mengarahkan manusia menjadi Tuhan, tetapi menjadi serigala bagi yang lain.
Di sinilah pentingnya mendialogkan puasa dengan realitas. Layakkah kita bergembira menyambut pahala dan surga sedangkan kemiskinan structural masih ada ? Banggakah kita menjalankan puasa sebulan penuh sementara sebagian besar bangsa ini telah dijajah system yang tak humanis ?

Sudah saatnya kita meninjau kembali pemahaman dan cara kita menghargai Ramadhan. Harus ada refresh terhadap makna puasa dan berupaya melakukan dobrakan psikologis dan teologis agar umat tidak terjebak dalam tradisionalisme. (anamak)

0 komentar:

Posting Komentar

    Blogger news

    Blogroll

    About