Rabu, 03 Februari 2010

18+ : true love never die, isn't ?

Sebuah film yang menarik dengan Label 18+, setidaknya membuat penonton yang usia muda ingin segera melihat bagaimana isi jalan cerita ini, terlebih kehadiran Arumi Bachsin yang tak asing lagi saat ini di layar lebar -aku ga ngefans banget-. True Love Never Die, garapan sutradara Nayato Fio Nual, yang baru saya kenal -entah karena males searching kali- seolah mengirim pesan bagaimana sebuah cinta digunakan semestinya, dan tak akan mati. Itu terlihat dari judul film ini.

Namun, di luar dugaan, sebelum saya menonton film ini, suguhan scene yang menarik dan dramatisasi yang tinggi seperti film Heart tidak ada sama sekali. Saya katakan film ini hampir mirip dengan Virgin 2 atau film sejenis yang mengusung gaya hidup kota besar, seks, pergaulan bebas. Dan setidaknya ada suguhan yang membuat mata menangis -soalnya yang saya ajak nonton di 21 ga nangis, hehhe-.

Jalan cerita yang dibangun oleh Nayato memang cukup bagus dengan mengusung Cinta yang tak pernah mati, tapi ada yang mengganjal dalam audio vokal oleh beberapa aktor di scene-scene awal -ngomong ga pas ma yang dicapin bibir-. Entah ini karena ada error dari pihak 21, atau karena pasca produksi yang gimana gitu, hehehe.

Cerita ini berawal dari empat remaja yang disatukan oleh nasib, mengekspresikan cinta dengan caranya sendiri, dan hidup dengan gayanya yang bebas, sehingga mereka begitu menghargai nilai cinta yang sejati, juga persahabatan. Untuk cerita selanjutnya mending nonton sendiri deh, sekalian numpang promosi -salam buat kru film 18+, ajak-ajak produksi donk-.

Finally, yang menjadi pertanyaan di benak saya ketika di toilet, -ga kuat AC, pasti kebelet pipis kalo abis nonton-, di mana letak cinta sejati dalam film ini ? Di mana True Love Never Die-nya?

Maju terus perfilman Indonesia ! :D



0 komentar:

Posting Komentar

    Blogger news

    Blogroll

    About