Jumat, 05 Februari 2010

Biar Kere Asal Keren


Saya selalu kagum sebagai orang Indonesia kepada Andre Moller, pria berasal dari Swedia yang pernah menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Yogyakarta sembilan tahun yang lalu. Ia menempuh pendidikan Perbandingan Agama dan Bahasa Sastra Indonesia melalui beasiswa dari Kementrian Luar Negeri Swedia. Ada apa dengan Andre?

Sebagai orang asing yang mempelajari Bahasa Indonesia, sampai saat ini ia masih aktif untuk berperan serta dalam tulisan atau penelitian tentang Bahasa Indonesia yang kompleks melalui web dan Surat Kabar Harian. Saya katakan Bahasa Indonesia kompleks berdasarkan Remy Sylado, yang menyatakan sembilan dari sepuluh kata dalam Bahasa Indonesia sebenarnya adalah kata yang berasal dari bahasa lain. Seperti menyaingi iklan sabun mandi yang menyatakan bahwa sembilan dari sepuluh bintang film menggunakan sabun mandi tersebut.

Banyak yang menanamkan saham dalam bahasa Indonesia diantaranya yaitu Sansekerta, Arab, Cina, Belanda, Inggris, Jawa, dan Sunda. Saham bahasa Inggrislah yang menjadi ikon secara permanen, entah samapai kapan.

Saat masih tinggal di Yogyakarta, Andre menceritakan bagaimana daya pikat Bahas Inggris terhadap Bahasa Indonesia. Ketika ia ingin menjadi anggota di pusat pelatihan kebugaran, terjadi kesalahan pemahaman yang sangat mendasar. Penjaga pusat pelatihan kebugaran tersebut tidak memahami apa yang dimaksud oleh Andre. Namun, saat komunikasi terjalin dengan baik, penjaga tersebut memahami Andre ingin menjadi member di fitness centre.

Memang, bahasa Indonesai merupakan bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia sendiri. Dengan rujukan banyaknya ragam suku dan budaya di negeri ibu pertiwi ini. Hubungan antara bahasa dan kebudayaan pun sangat berpengaruh. Contoh pemakaian kata anjangsono yang lazim digunakan di beberapa organisasi kedaerahan di Jogja pun sangat kompleks.

Anjang sono (kunjungan rindu) merupakan kata Sunda yang mula-mula dipasarkan oleh Bung Karno secara lisan. Namun, karena Bung Karno pun mengeritik kata Jawa Solo yang seharusnya dituliskan Sala, orang pun secara ‘kreatif’ menganggap anjang sono berasal dari bahasa Jawa karena Bung karno orang Jawa. Maka, kata Sunda pun dituliskan sesuai dengan kaidah bahasa Jawa menjadi anjangsana. Dengan catatan orang Jawa pun tidak memahami makna kata itu karena memang tidak ada dalam kekayaan kosa kata mereka. (lebih lanjut lihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru Balai Pustaka)

Menarik, kurang diteliti, dan cukup menjanjikan bagi para peneliti bahasa. Sehingga, penulisan dan pemilihan kata itu sesuai dengan semboyan biar kere asal keren.

# Anam Ak,
Sedang mempelajari lebih lanjut tentang ilmu komunikasi dan bahasa.

0 komentar:

Posting Komentar

    Blogger news

    Blogroll

    About