Sebagian orang gegap gempita dan suka cita menyambut bulan Ramadhan, sebagian lagi tetap menjalankan rutinitas kesehariannya tanpa ada pengaruh bahwa bulan ini setidaknya menjalankan puasa. Terlihat di pojok warung yang notabene buka 24 jam. Muslimkah? Wallahu a’lam bisshowab. Bagi yang merasakan bulan Ramadhan sulit menggambarkan begaimana perasaan haru dan gembira menjadi satu. Ini adalah kondisi abstrak. Harapan surga, pahala berlipat ganda, ampunan dosa, dan diselamatkan dari api neraka mengisi suasana batin.
Pada dasarnya, menghormati Ramadhan adalah penghargaan terhadap tradisi. Umat yang menghargai tradisinya adalah umat yang autentik. Mereka tidak tercabut dari akar dan memahami tradisi sebagai bagian dirinya karena tradisi merupakan ciptaannya sendiri, sehingga menolak tradisi adalah penolakan terhadap karya umat itu sendiri.
Akan tetapi, penghargaan secara berlebihan , karena disertai dengan sakralisasi, akan menjatuhkan umat pada tradisionalisme, pemberhalaan tradisi. Di sini harus dibedakan antara tradisi dan tradisionalisme. Puasa Ramadhan semestinya didialogkan dengan masalah kemanusiaan, tidak sebatas dijalankan lalu menanti limpahan pahala dan ampunan.
Secara potensial, manusia menyimpan seluruh sifat Tuhan. Apabila sifat itumenjelma menjadi sempurna, bisa disebut insan kamil. Sebuah konsep tentang kesempurnaan akhlak, di mana sifat maskulin dan feminine Tuhan menyatu utuh pada manusia. Jadi, tujuan puasa adalah hendak menjadi Tuhan, dalam pengertian sufistik, yang secra atraktif digambarkan secara takholli (pengosongan), tahalli (pengisian), dan tajalli (penjelmaan). Itulah makna puasa yang harus didialogkan dengan realitas. Lalu realitas yang seperti apa ?
Thomas Hobbes dalam filsafat politiknya mengatakan manusia adalah serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus). Bias benar, karena realitas yang ada adalah ketamakan yang berimplikasi pada pertikaian sesama. Itu manusia. Karl Max menyimpulkan, sejarah manusia didasari benturan dan gesekan kelas sosial. Tidak jauh beda dengan Hobbes. Realitas yang kita hadapi alih-alih mengarahkan manusia menjadi Tuhan, tetapi menjadi serigala bagi yang lain. Di sinilah pentingnya mendialogkan puasa dengan realitas. Layakkah kita bergembira menyambut pahala dan surga sedangkan kemiskinan structural masih ada ? Banggakah kita menjalankan puasa sebulan penuh sementara sebagian besar bangsa ini telah dijajah system yang tak humanis ?
Sudah saatnya kita meninjau kembali pemahaman dan cara kita menghargai Ramadhan. Harus ada refresh terhadap makna puasa dan berupaya melakukan dobrakan psikologis dan teologis agar umat tidak terjebak dalam tradisionalisme. (anamak)
Saya selalu kagum sebagai orang Indonesia kepada Andre Moller, pria berasal dari Swedia yang pernah menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Yogyakarta sembilan tahun yang lalu. Ia menempuh pendidikan Perbandingan Agama dan Bahasa Sastra Indonesia melalui beasiswa dari Kementrian Luar Negeri Swedia. Ada apa dengan Andre?
Sebagai orang asing yang mempelajari Bahasa Indonesia, sampai saat ini ia masih aktif untuk berperan serta dalam tulisan atau penelitian tentang Bahasa Indonesia yang kompleks melalui web dan Surat Kabar Harian. Saya katakan Bahasa Indonesia kompleks berdasarkan Remy Sylado, yang menyatakan sembilan dari sepuluh kata dalam Bahasa Indonesia sebenarnya adalah kata yang berasal dari bahasa lain. Seperti menyaingi iklan sabun mandi yang menyatakan bahwa sembilan dari sepuluh bintang film menggunakan sabun mandi tersebut.
Banyak yang menanamkan saham dalam bahasa Indonesia diantaranya yaitu Sansekerta, Arab, Cina, Belanda, Inggris, Jawa, dan Sunda. Saham bahasa Inggrislah yang menjadi ikon secara permanen, entah samapai kapan.
Saat masih tinggal di Yogyakarta, Andre menceritakan bagaimana daya pikat Bahas Inggris terhadap Bahasa Indonesia. Ketika ia ingin menjadi anggota di pusat pelatihan kebugaran, terjadi kesalahan pemahaman yang sangat mendasar. Penjaga pusat pelatihan kebugaran tersebut tidak memahami apa yang dimaksud oleh Andre. Namun, saat komunikasi terjalin dengan baik, penjaga tersebut memahami Andre ingin menjadi member di fitness centre.
Memang, bahasa Indonesai merupakan bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia sendiri. Dengan rujukan banyaknya ragam suku dan budaya di negeri ibu pertiwi ini. Hubungan antara bahasa dan kebudayaan pun sangat berpengaruh. Contoh pemakaian kata anjangsono yang lazim digunakan di beberapa organisasi kedaerahan di Jogja pun sangat kompleks.
Anjang sono (kunjungan rindu) merupakan kata Sunda yang mula-mula dipasarkan oleh Bung Karno secara lisan. Namun, karena Bung Karno pun mengeritik kata Jawa Solo yang seharusnya dituliskan Sala, orang pun secara ‘kreatif’ menganggap anjang sono berasal dari bahasa Jawa karena Bung karno orang Jawa. Maka, kata Sunda pun dituliskan sesuai dengan kaidah bahasa Jawa menjadi anjangsana. Dengan catatan orang Jawa pun tidak memahami makna kata itu karena memang tidak ada dalam kekayaan kosa kata mereka. (lebih lanjut lihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru Balai Pustaka)
Menarik, kurang diteliti, dan cukup menjanjikan bagi para peneliti bahasa. Sehingga, penulisan dan pemilihan kata itu sesuai dengan semboyan biar kere asal keren.
# Anam Ak, Sedang mempelajari lebih lanjut tentang ilmu komunikasi dan bahasa.
Perkembangan teknologi komunikasi dalam era komunikasi interaktif ditandai pada saat komunikasi person to person secara dua arah menjadi kenyataan dengan menggunakan perangkat komputer yaitu internet. Hal ini menjadi tonggak perkembangan paradigma media baru yang sangat didukung oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi daripada media lama.
Bagi kalangan pengguna internet, siapa yang tak kenal blog? Pada tahun 1999, berbagai media sempat menyebut blog sebagai era kebangkitan web media, yakni era media massa baru setelah datangnya internet. Ketika media massa dikonsumsi ke tangan individu, dan masing-masing individu menjadi medianya sendiri, menjadi kebebasan informasi yang sesungguhnya. Tak hanya itu, para blogger (sebutan bagi pengguna blog) oleh keputusan pengadilan tinggi Amerika Serikat dianggap sebagai jurnalis. Melihat kemampuan yang dimiliki oleh blog tersebut, maka tak berlebihan jika menyebut blog sebagai media baru. ‘Kebaruan’ blog sebagai sebuah media antara lain adalah pada kaburnya batas antara domain publik dan privat.
Dalam blog, seseorang dapat menuliskan catatan hariannya yang berisi opini, komentar bahkan kisah pribadinya yang notabene adalah menjadi ruang privasinya. Hal ini membuat blog menjadi media personal bagi si blogger tersebut. Namun, ruang dan media personal itu memungkinkan untuk diakses oleh siapapun juga. Ketika ruang tersebut terbuka untuk umum, otomatis ruang tersebut menjadi milik publik. Pada titik inilah batas antara ruang privat dan publik menjadi kabur. Untuk itu, seperti juga web atau media internet, sulit untuk menyebut blog sebagai media massa. Martin Ryder menuliskan bahwa “...the web is a mass medium. But unlike other mass media such as television, radio, film, and print publishing, this medium appears to be open to mass producers as well as mass consumers”.
Jumlah blog di Indonesia yang terus bertambah tiap detiknya, menjadikan sebuah fenomena yang sangat lazim dalam perkembangan teknologi komunikasi. Tantangan untuk blogger adalah bagaimana isi dari blog tersebet outstanding. Sebuah tuntutan karakter, proses identitas diri dan kreatifitas yang tinggi untuk menyampaikan sebuah pesan yang layak dinikmati. Kalangan blogger menganggap identitas tersebut perlu, mereka mementingkan identitas seseorang sebelum mau menerima argumen atau komentar yang diutarakan, apalagi di Indonesia yang masih kental budaya figur atau tokoh, pendapat itu dari siapa, apakah seorang yang terkenal atau orang biasa pasti mempengaruhi penafsirannya. Kadangkala sepatah kata dari seorang tokoh terkenal bisa menimbulkan polemik yang berkepanjangan di masyarakat, berbeda dengan komentar yang berasal dari orang biasa yang lewat begitu saja. Banyak juga orang yang menjadikan identitas yang tidak jelas sebagai senjata andalan untuk mengelak dari kelemahan sehingga sering terjadi masalah yang menyerempet personalitas.
Penggunaan dan penerimaan blog di Indonesia ini pun sangat apresiatif, melihat Pesta Blogger 2008 kembali di gelar di Jakarta dengan jumlah peserta yang terdaftar mencapai 1.200 orang daripada Pesta Blogger tahun sebelumnya dengan peserta hanya 500 orang. Melihat perkembangan statistik dari ajang Pesta Blogger tersebut, menjadi blogger adalah hak semua orang. Permasalahannya yaitu bagaimana sang blogger mendesain isi blog mencerminkan bangsa Indonesia yang madani. Adanya peristiwa fenomenal penistaan agama yang gempar diberitakan pelbagai media beberapa hari yang lalu sangat ironis di balik menjamurnya blogger di Indonesia.
Daniel Chandler, dalam bukunya The Construction of Identity in the Personal Homepages of Adolescents (1998) menjelaskan bahwa tujuan utama dari sebuah blog adalah self presentation. Self presentation merupakan perilaku yang umum dilakukan oleh individu, terutama oleh remaja. Setiap individu membutuhkan ruang untuk mengekspresikan dirinya. Personal homepage atau blog memberikan kesempatan dan kebebasan pada individu untuk melakukan itu. Hambatan yang mungkin saja ada dalam kehidupan nyata, seperti hambatan psikologis, hambatan ruang atau hambatan teknis tak lagi ditemui dalam dunia virtual.
Blog tidak hanya berupa sebuah situs pribadi, namundapat juga dilihat sebagai sebuah refleksi konstruksi identitas si pembuatnya. Dengan membuat halaman-halaman tertentu seorang penulis web memiliki kesempatan sepenuhnya untuk mempresentasikan dirinya sesuai yang ia inginkan. Lingkungan virtual dalam internet memberikan ruang untuk itu. Untuk memahami blogger adalah hak semua orang, ada dua pendekatan untuk memahami fungsi dari teknologi komunikasi yaitu Technological Determinism dan Social Determinism.
Pertama, technological determinist melihat bahwa aspek-aspek sosial, kultural, politik dan ekonomi dalam kehidupan kita ditentukan oleh teknologi. Teknologi baru akan membentuk masyarakat. Asumsi yang mendasari pendekatan tersebut adalah bahwa menurut mereka, teknologi adalah independen, aktif dan menentukan, sedangkan kultur adalah pasif dan reaktif, sehingga perubahan teknologi yang terjadi adalah sesuatu yang otonom dan berada di luar masyarakat. Teknologi mampu mengontrol perilaku manusia dan kontrol ini akan terus berlangsung.
Kedua, social determinism berlawanan dengan pandangan technological determinist, justru melihat kekuatan faktor sosio-ekonomi. Teknologi adalah salah satu dari sekian banyak kekuatan yang dipengaruhi dan akan mempengaruhi perkembangan sosial, ekonomi dan kultural. Social constructivism of technology adalahsebuah pendekatan lain yang juga menjadi oposisi dari technological determinism (Kitchin, 1998 : 57). Menurut pendekatan ini, teknologi adalah sebuah konstruksi sosial, antara teknologi dan masyarakat tak dapat dipisahkan tapi saling berkaitan satu sama lain. Sebagai sebuah konstruksi sosial, teknologi komunikasi dihubungkan dan dipahami melalui kultur sebagai proses sosial. Teknologi komunikasi adalah sebuah artefak sosial yang diantarai oleh interaksi sosial yang berkelanjutan dan merupakan produk dari mediasi sosial. Sedikit berbeda dengan pendekatan social determinism, pendekatan ini lebih memfokuskan pada level mikro. Pendekatan ini juga menolak anggapan para social determinist yang menyebutkan bahwa kekuatan politik ekonomi dan struktur kapitalisme yang akan menentukan perkembangan teknologi.
Melalui pendekatan yang digunakan oleh blogger inilah untuk memaksimalkan peran blog dalam kehidupan masyarakat madani. Bukankah warga negara Indonesia yang baik dan benar mempunyai hak dan kewajiban masing-masing dalam hidupnya?
Sebuah film yang menarik dengan Label 18+, setidaknya membuat penonton yang usia muda ingin segera melihat bagaimana isi jalan cerita ini, terlebih kehadiran Arumi Bachsin yang tak asing lagi saat ini di layar lebar -aku ga ngefans banget-. True Love Never Die, garapan sutradara Nayato Fio Nual, yang baru saya kenal -entah karena males searching kali- seolah mengirim pesan bagaimana sebuah cinta digunakan semestinya, dan tak akan mati. Itu terlihat dari judul film ini.
Namun, di luar dugaan, sebelum saya menonton film ini, suguhan scene yang menarik dan dramatisasi yang tinggi seperti film Heart tidak ada sama sekali. Saya katakan film ini hampir mirip dengan Virgin 2 atau film sejenis yang mengusung gaya hidup kota besar, seks, pergaulan bebas. Dan setidaknya ada suguhan yang membuat mata menangis -soalnya yang saya ajak nonton di 21 ga nangis, hehhe-.
Jalan cerita yang dibangun oleh Nayato memang cukup bagus dengan mengusung Cinta yang tak pernah mati, tapi ada yang mengganjal dalam audio vokal oleh beberapa aktor di scene-scene awal -ngomong ga pas ma yang dicapin bibir-. Entah ini karena ada error dari pihak 21, atau karena pasca produksi yang gimana gitu, hehehe.
Cerita ini berawal dari empat remaja yang disatukan oleh nasib, mengekspresikan cinta dengan caranya sendiri, dan hidup dengan gayanya yang bebas, sehingga mereka begitu menghargai nilai cinta yang sejati, juga persahabatan. Untuk cerita selanjutnya mending nonton sendiri deh, sekalian numpang promosi -salam buat kru film 18+, ajak-ajak produksi donk-.
Finally, yang menjadi pertanyaan di benak saya ketika di toilet, -ga kuat AC, pasti kebelet pipis kalo abis nonton-, di mana letak cinta sejati dalam film ini ? Di mana True Love Never Die-nya?