“Mau?” Sepenggal kata dari salah satu iklan sebuah seluler akhir-akhir ini di TV ataupun dalam bentuk iklan lainnya merupakan sebuah ajakan atau image yang sangat simple dan dalam. Dibandingkan dengan iklan lainnya yang (kadang) sedikit kurang kreatif atau belum bisa menciptakan sebuah momen untuk dijadikan sebuah image atau ingatan dalam masyarakat. Beberapa kata yang sudah menjadi bagian dari anak muda atau remaja memang target dari biro iklan, terlebih juga seorang creative director.
Ya, saat sebuah iklan menjadikan komoditas utama untuk brand image produk yang dikeluarkan, masyarakat pun cenderung terhalunisasi bahkan terhipnotis produk tersebut. Bukankah ini sebuah manajamen yang baik?
Mungkin manajemen yang baik adalah dimulai dengan perenungan. Mengapa? Saat Tahun Baru Hijriah, yang kebanyakan beberapa warga muslim tidak merayakannya dengan beberapa agenda acara atau bahkan tidak tahu sama sekali kapan hari tersebut ada di kalender, biasanya saya merenung diri dan jauh dari keramaian kota. Saat itulah sebuah kontemplasi muncul. Apa yang dilakukan tahun sebelumnya dan bagaimana tahun selanjutnya. Dan sebuah perenungan tersebut melahirkan sebuah konsep manajemen yang bertujuan untuk merubah hidup untuk tahun selanjutnya.
Hm, saya tidak tahu pendapat Anda. Tapi, kalau kita cermati penerungan merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. Dan saya sama sekali saya tidak sedang mendramasitir cerita agar Anda tertarik membaca tulisan ini. Serius! Dan menurut saya, inilah salah satu versi dari ‘mengasah gergaji’ (sharpen the shaw), suatu kebiasaan efektif yang diluncurkan oleh Stephen Chow dalam buku Best Seller Seven Habits of Highly Effective People.
Saat tukang kayu menggergaji, dan terus menerus menggergaji tanpa berhenti, pasti membutuhkan waktu lama. Tetapi, apabila tukang kayu mengasah dulu gergaji sejenak, dipastikan membutuhkan proses penggergajian yang sangat baik.
Sindrom inilah yang terjadi dalam seorang pemimpin. Dari beberapa pemimpin, (mungkin) sebuah perenungan dan plan yang matang bersifat la buda dan akan menciptakan sebuah efektifitas kerja yang maksimal. Dan bagi sebagian pemimpin pun efektifitas kerja tanpa diimbangi dengan perenungan adalah daya kinerjanya.
Pernahkah terlintas di benak Anda apabila menjadi seorang pemimpin memikirkan bagaimana kinerja atau sebuah organisasi akan maju beberapa tahun mendatang? Bagaimana dengan rasa kebersamaan dengan anggotanaya untuk memajukan dalam sebuah organisasi? Dan bagaimana dengan pertanyaaan atau kritikan yang lainnya? Nah, Anda tidak akan menjawab pertanyaan tersebut apabila Anda sebagai pemimpin tidak berhenti untuk menyisihkan waktu untuk merenung dan merencanakan sebuah plan.
Dalam sebuah majalah manajemen, ada beberapa kriteria untuk menjadi seorang pemimpin yang sangat berkarakter, diantaranya yaitu :
a. Memiliki hasrat untuk membangun dan bertanggungjawab
b. Memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas
c. Komunikatif dan ramah
d. Memiliki keterampilan dalam sebuah organisasi
e. Melihat hidup sebagai petualangan
Dari beberapa poin di atas, memiliki hasrat untuk bertanggungjawab dan membangun sebuah organisasi merupakan sifat yang utama untuk kriteria seorang pemimpin. Beberapa poin di atas bisa saja mempunyai korelasi dengan poin yang lainnya. Tetapi, pendapat Anda tentang beberapa kriteria seorang pemimpin di atas masih bisa ditambahkan beberapa poin. Monggo saja…
Kisah seoarang pemimpin dalam sejarah Islam pun harus kita renungi dan patut dijadikan sebuah suri tauladan. Ahnaf bin Qais, seorang pemimpin Bani Tamim, yang mendapatkan kesempatan emas untuk belajar kepada para sahabat, terutama adalah kepada Al-Faruq Umar bin Khathab, berkali-kali ditanya oleh kaumnya tentang rahasia seorang pemimpin. Beliau hanya menjawab, “barangsiapa memeiliki empat hal, maka dia akan bisa memimpin kaumnya dan tak akan terhalang untuk mendapatkan kedudukan itu”. Empat hal tersebut yaitu, agama sebagai perisainya, kemuliaan yang menjaganya, akal yang menuntunnya dan rasa malu yang mengendalikannya.
Proses sebuah perenungan merupakan sebuah tuntunan dari akal. Tentu, perenungan akan menyita waktu Anda. Entah sedikit atau membutuhkan waktu yang lama. Akan tetapi, sebuah perenungan akan meningkatkan kemajuan dalam sebuah organisasi. Implikasinya, akan mempercepat agenda kerja dan produktifitas yang sangat tinggi. Apabila Anda menjadi seorang pemimpin, perenungan bisa saja dilakukan dalam sebuah momen. Entah Tahun Baru, Hari Raya, Hari Ulang Tahun sebuah organisasi, atau kapan saja.
Dan tulisan ini bukan merupakan sebuah ceramah atau kesan lainnya, saya hanya bermaksud untuk mengajak merenung, bukan menceramahi, apabila Anda ingin menjadi seorang pemimpin. Mau?
Ya, saat sebuah iklan menjadikan komoditas utama untuk brand image produk yang dikeluarkan, masyarakat pun cenderung terhalunisasi bahkan terhipnotis produk tersebut. Bukankah ini sebuah manajamen yang baik?
Mungkin manajemen yang baik adalah dimulai dengan perenungan. Mengapa? Saat Tahun Baru Hijriah, yang kebanyakan beberapa warga muslim tidak merayakannya dengan beberapa agenda acara atau bahkan tidak tahu sama sekali kapan hari tersebut ada di kalender, biasanya saya merenung diri dan jauh dari keramaian kota. Saat itulah sebuah kontemplasi muncul. Apa yang dilakukan tahun sebelumnya dan bagaimana tahun selanjutnya. Dan sebuah perenungan tersebut melahirkan sebuah konsep manajemen yang bertujuan untuk merubah hidup untuk tahun selanjutnya.
Hm, saya tidak tahu pendapat Anda. Tapi, kalau kita cermati penerungan merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. Dan saya sama sekali saya tidak sedang mendramasitir cerita agar Anda tertarik membaca tulisan ini. Serius! Dan menurut saya, inilah salah satu versi dari ‘mengasah gergaji’ (sharpen the shaw), suatu kebiasaan efektif yang diluncurkan oleh Stephen Chow dalam buku Best Seller Seven Habits of Highly Effective People.
Saat tukang kayu menggergaji, dan terus menerus menggergaji tanpa berhenti, pasti membutuhkan waktu lama. Tetapi, apabila tukang kayu mengasah dulu gergaji sejenak, dipastikan membutuhkan proses penggergajian yang sangat baik.
Sindrom inilah yang terjadi dalam seorang pemimpin. Dari beberapa pemimpin, (mungkin) sebuah perenungan dan plan yang matang bersifat la buda dan akan menciptakan sebuah efektifitas kerja yang maksimal. Dan bagi sebagian pemimpin pun efektifitas kerja tanpa diimbangi dengan perenungan adalah daya kinerjanya.
Pernahkah terlintas di benak Anda apabila menjadi seorang pemimpin memikirkan bagaimana kinerja atau sebuah organisasi akan maju beberapa tahun mendatang? Bagaimana dengan rasa kebersamaan dengan anggotanaya untuk memajukan dalam sebuah organisasi? Dan bagaimana dengan pertanyaaan atau kritikan yang lainnya? Nah, Anda tidak akan menjawab pertanyaan tersebut apabila Anda sebagai pemimpin tidak berhenti untuk menyisihkan waktu untuk merenung dan merencanakan sebuah plan.
Dalam sebuah majalah manajemen, ada beberapa kriteria untuk menjadi seorang pemimpin yang sangat berkarakter, diantaranya yaitu :
a. Memiliki hasrat untuk membangun dan bertanggungjawab
b. Memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas
c. Komunikatif dan ramah
d. Memiliki keterampilan dalam sebuah organisasi
e. Melihat hidup sebagai petualangan
Dari beberapa poin di atas, memiliki hasrat untuk bertanggungjawab dan membangun sebuah organisasi merupakan sifat yang utama untuk kriteria seorang pemimpin. Beberapa poin di atas bisa saja mempunyai korelasi dengan poin yang lainnya. Tetapi, pendapat Anda tentang beberapa kriteria seorang pemimpin di atas masih bisa ditambahkan beberapa poin. Monggo saja…
Kisah seoarang pemimpin dalam sejarah Islam pun harus kita renungi dan patut dijadikan sebuah suri tauladan. Ahnaf bin Qais, seorang pemimpin Bani Tamim, yang mendapatkan kesempatan emas untuk belajar kepada para sahabat, terutama adalah kepada Al-Faruq Umar bin Khathab, berkali-kali ditanya oleh kaumnya tentang rahasia seorang pemimpin. Beliau hanya menjawab, “barangsiapa memeiliki empat hal, maka dia akan bisa memimpin kaumnya dan tak akan terhalang untuk mendapatkan kedudukan itu”. Empat hal tersebut yaitu, agama sebagai perisainya, kemuliaan yang menjaganya, akal yang menuntunnya dan rasa malu yang mengendalikannya.
Proses sebuah perenungan merupakan sebuah tuntunan dari akal. Tentu, perenungan akan menyita waktu Anda. Entah sedikit atau membutuhkan waktu yang lama. Akan tetapi, sebuah perenungan akan meningkatkan kemajuan dalam sebuah organisasi. Implikasinya, akan mempercepat agenda kerja dan produktifitas yang sangat tinggi. Apabila Anda menjadi seorang pemimpin, perenungan bisa saja dilakukan dalam sebuah momen. Entah Tahun Baru, Hari Raya, Hari Ulang Tahun sebuah organisasi, atau kapan saja.
Dan tulisan ini bukan merupakan sebuah ceramah atau kesan lainnya, saya hanya bermaksud untuk mengajak merenung, bukan menceramahi, apabila Anda ingin menjadi seorang pemimpin. Mau?