Kamis, 30 April 2009

Jadi Pemimpin, Mau?

“Mau?” Sepenggal kata dari salah satu iklan sebuah seluler akhir-akhir ini di TV ataupun dalam bentuk iklan lainnya merupakan sebuah ajakan atau image yang sangat simple dan dalam. Dibandingkan dengan iklan lainnya yang (kadang) sedikit kurang kreatif atau belum bisa menciptakan sebuah momen untuk dijadikan sebuah image atau ingatan dalam masyarakat. Beberapa kata yang sudah menjadi bagian dari anak muda atau remaja memang target dari biro iklan, terlebih juga seorang creative director.


Ya, saat sebuah iklan menjadikan komoditas utama untuk brand image produk yang dikeluarkan, masyarakat pun cenderung terhalunisasi bahkan terhipnotis produk tersebut. Bukankah ini sebuah manajamen yang baik?

Mungkin manajemen yang baik adalah dimulai dengan perenungan. Mengapa? Saat Tahun Baru Hijriah, yang kebanyakan beberapa warga muslim tidak merayakannya dengan beberapa agenda acara atau bahkan tidak tahu sama sekali kapan hari tersebut ada di kalender, biasanya saya merenung diri dan jauh dari keramaian kota. Saat itulah sebuah kontemplasi muncul. Apa yang dilakukan tahun sebelumnya dan bagaimana tahun selanjutnya. Dan sebuah perenungan tersebut melahirkan sebuah konsep manajemen yang bertujuan untuk merubah hidup untuk tahun selanjutnya.

Hm, saya tidak tahu pendapat Anda. Tapi, kalau kita cermati penerungan merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. Dan saya sama sekali saya tidak sedang mendramasitir cerita agar Anda tertarik membaca tulisan ini. Serius! Dan menurut saya, inilah salah satu versi dari ‘mengasah gergaji’ (sharpen the shaw), suatu kebiasaan efektif yang diluncurkan oleh Stephen Chow dalam buku Best Seller Seven Habits of Highly Effective People.

Saat tukang kayu menggergaji, dan terus menerus menggergaji tanpa berhenti, pasti membutuhkan waktu lama. Tetapi, apabila tukang kayu mengasah dulu gergaji sejenak, dipastikan membutuhkan proses penggergajian yang sangat baik.

Sindrom inilah yang terjadi dalam seorang pemimpin. Dari beberapa pemimpin, (mungkin) sebuah perenungan dan plan yang matang bersifat la buda dan akan menciptakan sebuah efektifitas kerja yang maksimal. Dan bagi sebagian pemimpin pun efektifitas kerja tanpa diimbangi dengan perenungan adalah daya kinerjanya.

Pernahkah terlintas di benak Anda apabila menjadi seorang pemimpin memikirkan bagaimana kinerja atau sebuah organisasi akan maju beberapa tahun mendatang? Bagaimana dengan rasa kebersamaan dengan anggotanaya untuk memajukan dalam sebuah organisasi? Dan bagaimana dengan pertanyaaan atau kritikan yang lainnya? Nah, Anda tidak akan menjawab pertanyaan tersebut apabila Anda sebagai pemimpin tidak berhenti untuk menyisihkan waktu untuk merenung dan merencanakan sebuah plan.

Dalam sebuah majalah manajemen, ada beberapa kriteria untuk menjadi seorang pemimpin yang sangat berkarakter, diantaranya yaitu :
a. Memiliki hasrat untuk membangun dan bertanggungjawab
b. Memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas
c. Komunikatif dan ramah
d. Memiliki keterampilan dalam sebuah organisasi
e. Melihat hidup sebagai petualangan
Dari beberapa poin di atas, memiliki hasrat untuk bertanggungjawab dan membangun sebuah organisasi merupakan sifat yang utama untuk kriteria seorang pemimpin. Beberapa poin di atas bisa saja mempunyai korelasi dengan poin yang lainnya. Tetapi, pendapat Anda tentang beberapa kriteria seorang pemimpin di atas masih bisa ditambahkan beberapa poin. Monggo saja…

Kisah seoarang pemimpin dalam sejarah Islam pun harus kita renungi dan patut dijadikan sebuah suri tauladan. Ahnaf bin Qais, seorang pemimpin Bani Tamim, yang mendapatkan kesempatan emas untuk belajar kepada para sahabat, terutama adalah kepada Al-Faruq Umar bin Khathab, berkali-kali ditanya oleh kaumnya tentang rahasia seorang pemimpin. Beliau hanya menjawab, “barangsiapa memeiliki empat hal, maka dia akan bisa memimpin kaumnya dan tak akan terhalang untuk mendapatkan kedudukan itu”. Empat hal tersebut yaitu, agama sebagai perisainya, kemuliaan yang menjaganya, akal yang menuntunnya dan rasa malu yang mengendalikannya.

Proses sebuah perenungan merupakan sebuah tuntunan dari akal. Tentu, perenungan akan menyita waktu Anda. Entah sedikit atau membutuhkan waktu yang lama. Akan tetapi, sebuah perenungan akan meningkatkan kemajuan dalam sebuah organisasi. Implikasinya, akan mempercepat agenda kerja dan produktifitas yang sangat tinggi. Apabila Anda menjadi seorang pemimpin, perenungan bisa saja dilakukan dalam sebuah momen. Entah Tahun Baru, Hari Raya, Hari Ulang Tahun sebuah organisasi, atau kapan saja.

Dan tulisan ini bukan merupakan sebuah ceramah atau kesan lainnya, saya hanya bermaksud untuk mengajak merenung, bukan menceramahi, apabila Anda ingin menjadi seorang pemimpin. Mau?

Sebuah Anatomi Perubahan

(Yang Hijrah, Yang Hidup)

Pada suatu hari di tahun 1793 rakyat Perancis membatasi kekuasaan pemerintah dengan menarik suatu garis, dan garis itu tepat lewat leher Raja Louis XVI yang dipenggal lehernya di pisau guillotine.

Saat kepala Raja Louis XVI terpenggal, seluruh rakyat melihat bahwa “putra matahari” tersebut juga hanya terdiri dari daging dan darah saja. Mereka merasa bahwa kekuasaan bukan berdasarkan dewa atau surga, tetapi berdasarkan kemauan rakyat. Dengan cerita seperti ini, Chesterton mengungkapakan bahwa betapa besarnya arti revolusi zaman itu untuk Perancis, Eropa, bahkan seluruh dunjia. Terjadilah perubahan yang sampai hari ini dirasakan hampir oleh seluruh warga di dunia.

Dunia berubah menjadi nyata dari istilah political economy, dimana polis (merdeka) dan ekonomi digabungkan dalam satu pengertian meskipun berbeda. Dimulai perubahan terjadi, saat para petani di Yunani merebut forum publicum, sehingga raja yang sering membicarakn tentang kemuliaan, sekarang berbicara tentang hal yang paling mendasar seperti beras dan bahan baker minyak.

Era Nabi Muhammad SAW, perubahan fundamental bangsa Arab saat itu hijrahnya Nabi dari satu tempat ke tempat lainnya. Sehingga, zaman yang berada di garis hitam kelam itu berubah menjadi zaman putih yang sangat berpengaruh bagi dunia Islam saat ini.

Korelasi perubahan saat ini pun dapat dikatakan dengan hijrah. Ashabul Kahfi ketika tidur 309 tahun di dalam gua, dan apabila kita melihatnya pasti tercengang. Beberapa pakar medis menjelaskan bahwa orang yang tidur dan tidak menggerakkan badannya sedikit pun, maka dalam hitungan jam tubuh akan dingin dan tersedot gaya grafitasi. Satu kata : gerak.

Beberapa tahun yang lalu, di sebuah rumah sakit Kristen di Solo pernah merawat pasien koma dalam waktu yang tidak sebentar. 10 tahun. Untuk merawat pasien ini diperlukan kasur khusus yang bias menyalurkan hawa hangat ke dalam tubuhnya yang biisa menyalurkan paseien tersebut tetap hidup. Bahkan, kasur tersebut berasal dari Australia.

Kalau mau hidup, tentu hijrah. Dalam kata lain hijrah disebut gerak, gerak pun merupakan suatu perubahan. Bagaimana yang terjadi saat ini apabila Nabi Muhammad tidak melakukan hijrah. Akibatnya hijrah yang berpengaruh buat dakwah Islam.

Bagaimana dengan jiwa bangsa Indonesia? Menurut MAW. Brouer, Indonesia masih in statu nascendi. Jawa artinya diplomasi para priyayi, sunda berarti humor dan jiwa manajer dari orang desa. Padang ialah jiwa rasional Batak yang punya stamina yang kuat. Jiwa bangsa Indonesia ialah kombinasi dari sifat mulia, yang bersama emmberi suatu yang unik dan ayang akan bersinar di masa yang akan datang.

Bisakah kita melakukan hijrah? Hijrah bergerak dari satu posisi ke posisi lain yang dianggap lebih baik atau memberikan harapan baik. Tidak terlalu pada tolak ukur dan kemapaman tertentu. Apabila kita melakukan dan menyelesaikan sesuatu maka bersusahlah dengan pekerjaan yang lainnya. Begitulah firman Tuhan. Mundur berarti hancur, diam berarti tidak bergerak atau mati. Gerak hijrah adalah gerak maju. Hijrah adalah kebutuhan manusia yang merasa hidup dan mengharap kehidupan. Hijrah adalah hidup.

    Blogger news

    Blogroll

    About